KEBUMEN (kebumenekspres.com)-Mewabahnya trend batu akik di tengah masyarakat tidak hanya membawa berkah bagi para pengrajin batu akik. Seorang pengrajin kayu asal Desa Pandanlor Kecamatan Klirong juga turut ketiban berkah. Kok bisa?

Ya,  Rahmat Satibi, warga  RT 6 RW 2 Desa Pandanlor tak sekedar pandai membuat perabotan rumah dari kayu. Kayu di tangan pria berumur 31 tahun itu menjadi emban (bingkai) batu akik. Emban akik unik berbahan dari kayu, tak ayal banyak dicari para penggemar dan konsumen batu akik.

Pesanan terus mengalir bahkan membuat  Rahmat Satibi kewalahan. Setiap pesanan emban, baru bisa diselesaikan Rahmat selama dua minggu. Maklum, dalam sehari, paling ia bisa membuat dua emban dari yang biasanya 5-10 emban. "Jika dulu sebelum akik ramai, pesanan emban bisa selesai dalam waktu tiga hari namun kini lebih lama,"  tuturnya ditemui kebumenekspres.com,  Jumat (10/7/2015).

Dalam membuat emban, Rahmat masih mempertahankan cara tradisional. Pertama kali, kayu dipotong berbentuk balok. Kemudian kayu kotak tersebut diberi lubang dengan cara dibor sesuai dengan ukuran jari pemesan. Selanjutnya kayu tersebut dibentuk sesuai dengan keinginan.

Setelah polanya terbentuk, bar emban dihaluskan dengan cara diamplas secara manual. "Jika emban tersebut telah terbentuk, kemudian saya mulai membentuk motif sesuai dengan keinginan para pelanggan. Tetapi kebanyakan para pelanggan banyak pesan  emban polos," ujarnya.

Setelah proses tersebut selesai, emban akan dipoles dengan agar tampak mengkilap.  Serat asli kayu  dapat muncul dan siap dipakai oleh pemilik.

Lantaran keunikannya, Rahmat bahkan tidak sempat membuat emban akik siap pakai di rumahnya. Semua yang menginginkan emban buatannya, harus pesan terlebih dahulu. Maklum, sampai saat ini semua emban itu ia kerjakannya seorang diri dan belum dibantu karyawan.

"Sebenarnya, banyak orang yang datang ke rumah saya untuk membeli emban yang siap pakai. Tapi keterbatasan tenaga dan banyaknya pesanan, maka saya tidak membuat emban siap pakai,” ungkapnya.

Walaupun saat ini permintaan terhadap emban meningkat tajam, Rahmat tidak menaikan harga jualnya. Emban yang dia buat dijual dari harga Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu tergantung besar kecil dan tingkat kerumitannya. Itu juga tergantung dari jenis kayunya. "Saya juga tetap menjaga kualitas produk yang saya buat, " ungkapnya. (mam/cah)Mewabahnya trend batu akik di tengah masyarakat tidak hanya membawa berkah bagi para pengrajin batu akik. Seorang pengrajin kayu asal Desa Pandanlor Kecamatan Klirong juga turut ketiban berkah. Kok bisa?


Ya,  Rahmat Satibi, warga  RT 6 RW 2 Desa Pandanlor tak sekedar pandai membuat perabotan rumah dari kayu. Kayu di tangan pria berumur 31 tahun itu menjadi emban (bingkai) batu akik. Emban akik unik berbahan dari kayu, tak ayal banyak dicari para penggemar dan konsumen batu akik.

Pesanan terus mengalir bahkan membuat  Rahmat Satibi kewalahan. Setiap pesanan emban, baru bisa diselesaikan Rahmat selama dua minggu. Maklum, dalam sehari, paling ia bisa membuat dua emban dari yang biasanya 5-10 emban. "Jika dulu sebelum akik ramai, pesanan emban bisa selesai dalam waktu tiga hari namun kini lebih lama,"  tuturnya ditemui kebumenekspres.com,  Jumat (10/7/2015).

Dalam membuat emban, Rahmat masih mempertahankan cara tradisional. Pertama kali, kayu dipotong berbentuk balok. Kemudian kayu kotak tersebut diberi lubang dengan cara dibor sesuai dengan ukuran jari pemesan. Selanjutnya kayu tersebut dibentuk sesuai dengan keinginan.

Setelah polanya terbentuk, bar emban dihaluskan dengan cara diamplas secara manual. "Jika emban tersebut telah terbentuk, kemudian saya mulai membentuk motif sesuai dengan keinginan para pelanggan. Tetapi kebanyakan para pelanggan banyak pesan  emban polos," ujarnya.

Setelah proses tersebut selesai, emban akan dipoles dengan agar tampak mengkilap.  Serat asli kayu  dapat muncul dan siap dipakai oleh pemilik.

Lantaran keunikannya, Rahmat bahkan tidak sempat membuat emban akik siap pakai di rumahnya. Semua yang menginginkan emban buatannya, harus pesan terlebih dahulu. Maklum, sampai saat ini semua emban itu ia kerjakannya seorang diri dan belum dibantu karyawan.

"Sebenarnya, banyak orang yang datang ke rumah saya untuk membeli emban yang siap pakai. Tapi keterbatasan tenaga dan banyaknya pesanan, maka saya tidak membuat emban siap pakai,” ungkapnya.

Walaupun saat ini permintaan terhadap emban meningkat tajam, Rahmat tidak menaikan harga jualnya. Emban yang dia buat dijual dari harga Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu tergantung besar kecil dan tingkat kerumitannya. Itu juga tergantung dari jenis kayunya. "Saya juga tetap menjaga kualitas produk yang saya buat, " ungkapnya. (mam/cah)

Sumnber http://www.kebumenekspres.com/2015/07/unik-emban-batu-akik-di-klirong-ini.html

Ditulis Oleh :Operator Desa
Pada : 10 Agustus 2015 14:34:19 WIB

Komentar Artikel Terkait

Priyan
01 Agustus 2016 21:17:53 WIB

Berkata, Kan namanya kayu kan mudah retak atau terbelah

Post Komentar :


Nama
Alamat Email
Komentar